Untuk HIPAKAS

Ditampilkan oleh HIPAKAS angkatan tahun 2013 saat malam pergantian tahun 2014 di Balai Desa Seda.

Tari Dogdog, ditampilkan oleh HIPAKAS angkatan tahun 2013 saat malam pergantian tahun 2014 di Balai Desa Seda.

Kurang lebih sebulan yang lalu, A Imam mengenalkan blog Desa Seda kepada saya. Beliau meminta saya berpartisipasi dengan menulis. “Jika sempat,” katanya. Tentu saja saya tidak berani menolak. Permintaan itu menjadi sebuah kehormatan bagi saya secara pribadi. Sayangnya, waktu yang dibutuhkan untuk menulis tidak datang dengan segera. Atau mungkin, saya melewatkan beberapa kesempatan yang datang untuk menuliskan sesuatu. Tetapi, setelah saya pikirkan kembali. Saya bingung sendiri. Saya tidak tahu harus memulai dari mana. Memulai dengan menuliskan apa. Menulis sejarah Desa Seda? Suatu hal yang tidak mungkin saya lakukan dalam waktu dekat. Sebab, sejarah Desa Seda masih gelap buat saya. Mungkin sejarah HIPAKAS? Saya rasa tidak juga. Saya tidak memiliki kapasitas untuk menuliskannya. Belum ada study yang saya lakukan mengenai sejarah HIPAKAS di tahun-tahun pertama organisasi pelajar ini berdiri. Begitu juga dengan Giri Taruna. Saya tidak memiliki data-data mengenai sejarah dan perkembangannya. Malam ini, Rabu (6/8/2014), saya masih di Cirebon. Mulai memberanikan diri untuk mengawali sebuah tulisan. Sebetulnya, belum ada tema yang saya pikir tepat untuk dicatat. Tetapi, biar saja lah tulisan ini mengalir apa adanya. Kalau saya tidak memulainya sekarang. Kapan lagi? Kalau saya hanya mencari-cari tema yang tepat. Belum tentu satu atau dua bulan lagi saya bisa dapat. Jadi, saya menulis saja. Selasa (29/7/2014) malam, dihadapan forum resmi Halal Bil Halal Pemerintah Desa Seda dengan perwakilan warga perantau di Balai Desa Seda. Saya mengatakan bahwa pemuda seusia saya di Seda, bisa dibilang sudah menjadi barang langka. Pemuda, yang dominan di Seda adalah, Anak Baru Gede (ABG). Jika ada yang harus diperhatikan perkembangannya oleh Pemerintah Desa Seda, maka ABG kebanyakan itulah objek yang paling tepat. HIPAKAS harusnaya bisa menghimpun mereka. Tetapi, tantangannya tidak mudah. Usia mereka rata-rata belum genap 17 tahun. Di usia tersebut, di Indonesia, mereka belum memiliki hak untuk dipilih. Hak Warga Negara Indonesia (WNI) untuk dipilih, kalau tidak keliru, adalah ketika mencapai usia 21 tahun (Mohon koreksi kalau salah). Namun demikian, generasi penerus belum terputus, meski harus saya akui, HIPAKAS berada di titik nadir. Pelajar di Seda, yang SMP dan SMA, jumlahnya ratusan. Tetapi, yang rela dan bersedia waktu bermainnya dihibahkan untuk HIPAKAS tidak lebih dari 20 orang saja. Atau mungkin hanya sekitar 15 atau 10 orang saja. Dari dulu, sejauh yang saya tahu, memang seperti itu. Tidak lebih dari separuh jumlah pelajar SMP dan SMA di Seda yang bersedia aktif di HIPAKAS. Lalu, apa yang musti dirisaukan? Kalau dari dulu saja sudah seperti itu dan HIPAKAS tetap berdiri sampai saat ini, kenapa perkara jumlah anggota menjadi persoalan? Saya merasa perlu mempertanyakan hal ini terhadap batin saya sendiri mewakili pertanyaan yang mungkin dilontarkan para pembaca. Tentu saja, jumlah anggota ini mejadi sangat penting. Harus mendapat sentuhan kreatifitas dari para pengurus HIPAKAS agar jumlahnya tidak terus menyusut. Jika tidak, maka kehancuran HIPAKAS tinggal menunggu waktu saja. Kenapa saya katakan begitu? Karena saya merasa, HIPAKAS mulai kehilangan spiritnya. Semangat belajar dan membangun hanya dimiliki segelintir pengurus. Saya merasakanya ketika di suatu malam saat Ramadan saya menyempatkan hadir dalam sebuah pertemuan yang digelar HIPAKAS. Mereka sedang merencanakan malam pentas seni pasca Idul Fitri, agenda rutin HIPAKAS yang digelar setiap tahun. Saya memperhatikan. HIPAKAS sudah jah lebih baik soal administrasi. Setiap pertemuan ada catatanya. Setiap kegiatan ada jadwalnya. Tanggal-tanggal dicatat dengan baik. Bahkan, jadwal latihan “Rampak Sekar” ditentukan sedetail mungkin. Dari tempat latihan hingga jam dimulai dan berakhirnya latihan ditentukan dan dicatat. Apa yang mereka rencanakan sudah sangat baik. Tetapi, ketika saya perhatikan pelaksanaannya, praktiknya. Ternyata perencanaan yang menghabiskan waktu berjam-jam itu tidak ada hasilnya. Rencana yang detail itu tidak terlaksana. Bahkan, satu jam sebelum malam pentas seni dimulai, HIPAKAS masih berlatih rampak sekar, berlatih seni calung dan menghafal lagu “Lembur Kuring” yang diciptakan Bapak Kuwu Hormat, Dasuki Sudiana. HIPAKAS bisa tenggelam sekali lagi kalau kondisi yang demikian tidak segera ditangani. HIPAKAS harus punya daya tarik. Harus bisa menjadi magnet bagi komunitas ABG pencari kepribadian sejati untuk mencurahkan kreatifitas dan energi besar yang mereka miliki. Saya menyadari, ketika saya berturut-turut menjadi Ketua HIPAKAS di tahun 2005 dan 2006. Tidak banyak perubahan yang bisa saya lakukan. Maka, HIPAKAS generasi sekarang tidak boleh gagal kedua kali. Dan Pemerintah Desa Seda, dibawah pimpinan Bapak Wiharta harus berani menciptakan perubahan. Jangan pernah menyepelekan persoalan pemuda, terutama HIPAKAS. Pemuda itu badung, susah diatur, mau menang sendiri, pemberontak. Pokoknya, pemuda itu aneh-aneh. Pemerintah Desa harus menjadi orang tua yang baik. Mengerti kebutuhan anak-anaknya, memberikan ruang untuk kreatifitasnya, tidak mengekang, tegas dan bijaksana. Tidak ringan tangan, tidak asal pukul kalau anaknya keliru, demokratis dan mengedepankan diskusi untuk menyelesaikan persoalan. Komunikasi yang baik harus dijalin antara orang tua dan anak-anaknya. Antara Pemerintah Desa Seda dengan HIPAKAS. Dengan pemuda secara umum. Demikian. Semoga bermanfaat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s