Setahun Terlewat Begitu Saja..

Punya blog, walaupun gratisan, inginnya sih biar banyak catatan. Tapi ternyata menulis butuh kemauan ekstra besar. Banyak kesempatan untuk menulis lewat begitu saja. Akhirnya, blog kosong melompong tanpa isi. Ini saja sudah hampir setahun dari tulisan yang terakhir dibuat. Malas, untuk saya sepertinya sudah menjadi penyakit yang akut, yang tidak mudah diobati.

Mudah-mudahan tidak begitu selamanya. Dan mulai dari sekarang, lebih banyak catatan yang dibuat. Semoga..

Untuk HIPAKAS

Ditampilkan oleh HIPAKAS angkatan tahun 2013 saat malam pergantian tahun 2014 di Balai Desa Seda.

Tari Dogdog, ditampilkan oleh HIPAKAS angkatan tahun 2013 saat malam pergantian tahun 2014 di Balai Desa Seda.

Kurang lebih sebulan yang lalu, A Imam mengenalkan blog Desa Seda kepada saya. Beliau meminta saya berpartisipasi dengan menulis. “Jika sempat,” katanya. Tentu saja saya tidak berani menolak. Permintaan itu menjadi sebuah kehormatan bagi saya secara pribadi. Sayangnya, waktu yang dibutuhkan untuk menulis tidak datang dengan segera. Atau mungkin, saya melewatkan beberapa kesempatan yang datang untuk menuliskan sesuatu. Tetapi, setelah saya pikirkan kembali. Saya bingung sendiri. Saya tidak tahu harus memulai dari mana. Memulai dengan menuliskan apa. Menulis sejarah Desa Seda? Suatu hal yang tidak mungkin saya lakukan dalam waktu dekat. Sebab, sejarah Desa Seda masih gelap buat saya. Mungkin sejarah HIPAKAS? Saya rasa tidak juga. Saya tidak memiliki kapasitas untuk menuliskannya. Belum ada study yang saya lakukan mengenai sejarah HIPAKAS di tahun-tahun pertama organisasi pelajar ini berdiri. Begitu juga dengan Giri Taruna. Saya tidak memiliki data-data mengenai sejarah dan perkembangannya. Malam ini, Rabu (6/8/2014), saya masih di Cirebon. Mulai memberanikan diri untuk mengawali sebuah tulisan. Sebetulnya, belum ada tema yang saya pikir tepat untuk dicatat. Tetapi, biar saja lah tulisan ini mengalir apa adanya. Kalau saya tidak memulainya sekarang. Kapan lagi? Kalau saya hanya mencari-cari tema yang tepat. Belum tentu satu atau dua bulan lagi saya bisa dapat. Jadi, saya menulis saja. Selasa (29/7/2014) malam, dihadapan forum resmi Halal Bil Halal Pemerintah Desa Seda dengan perwakilan warga perantau di Balai Desa Seda. Saya mengatakan bahwa pemuda seusia saya di Seda, bisa dibilang sudah menjadi barang langka. Pemuda, yang dominan di Seda adalah, Anak Baru Gede (ABG). Jika ada yang harus diperhatikan perkembangannya oleh Pemerintah Desa Seda, maka ABG kebanyakan itulah objek yang paling tepat. HIPAKAS harusnaya bisa menghimpun mereka. Tetapi, tantangannya tidak mudah. Usia mereka rata-rata belum genap 17 tahun. Di usia tersebut, di Indonesia, mereka belum memiliki hak untuk dipilih. Hak Warga Negara Indonesia (WNI) untuk dipilih, kalau tidak keliru, adalah ketika mencapai usia 21 tahun (Mohon koreksi kalau salah). Namun demikian, generasi penerus belum terputus, meski harus saya akui, HIPAKAS berada di titik nadir. Pelajar di Seda, yang SMP dan SMA, jumlahnya ratusan. Tetapi, yang rela dan bersedia waktu bermainnya dihibahkan untuk HIPAKAS tidak lebih dari 20 orang saja. Atau mungkin hanya sekitar 15 atau 10 orang saja. Dari dulu, sejauh yang saya tahu, memang seperti itu. Tidak lebih dari separuh jumlah pelajar SMP dan SMA di Seda yang bersedia aktif di HIPAKAS. Lalu, apa yang musti dirisaukan? Kalau dari dulu saja sudah seperti itu dan HIPAKAS tetap berdiri sampai saat ini, kenapa perkara jumlah anggota menjadi persoalan? Saya merasa perlu mempertanyakan hal ini terhadap batin saya sendiri mewakili pertanyaan yang mungkin dilontarkan para pembaca. Tentu saja, jumlah anggota ini mejadi sangat penting. Harus mendapat sentuhan kreatifitas dari para pengurus HIPAKAS agar jumlahnya tidak terus menyusut. Jika tidak, maka kehancuran HIPAKAS tinggal menunggu waktu saja. Kenapa saya katakan begitu? Karena saya merasa, HIPAKAS mulai kehilangan spiritnya. Semangat belajar dan membangun hanya dimiliki segelintir pengurus. Saya merasakanya ketika di suatu malam saat Ramadan saya menyempatkan hadir dalam sebuah pertemuan yang digelar HIPAKAS. Mereka sedang merencanakan malam pentas seni pasca Idul Fitri, agenda rutin HIPAKAS yang digelar setiap tahun. Saya memperhatikan. HIPAKAS sudah jah lebih baik soal administrasi. Setiap pertemuan ada catatanya. Setiap kegiatan ada jadwalnya. Tanggal-tanggal dicatat dengan baik. Bahkan, jadwal latihan “Rampak Sekar” ditentukan sedetail mungkin. Dari tempat latihan hingga jam dimulai dan berakhirnya latihan ditentukan dan dicatat. Apa yang mereka rencanakan sudah sangat baik. Tetapi, ketika saya perhatikan pelaksanaannya, praktiknya. Ternyata perencanaan yang menghabiskan waktu berjam-jam itu tidak ada hasilnya. Rencana yang detail itu tidak terlaksana. Bahkan, satu jam sebelum malam pentas seni dimulai, HIPAKAS masih berlatih rampak sekar, berlatih seni calung dan menghafal lagu “Lembur Kuring” yang diciptakan Bapak Kuwu Hormat, Dasuki Sudiana. HIPAKAS bisa tenggelam sekali lagi kalau kondisi yang demikian tidak segera ditangani. HIPAKAS harus punya daya tarik. Harus bisa menjadi magnet bagi komunitas ABG pencari kepribadian sejati untuk mencurahkan kreatifitas dan energi besar yang mereka miliki. Saya menyadari, ketika saya berturut-turut menjadi Ketua HIPAKAS di tahun 2005 dan 2006. Tidak banyak perubahan yang bisa saya lakukan. Maka, HIPAKAS generasi sekarang tidak boleh gagal kedua kali. Dan Pemerintah Desa Seda, dibawah pimpinan Bapak Wiharta harus berani menciptakan perubahan. Jangan pernah menyepelekan persoalan pemuda, terutama HIPAKAS. Pemuda itu badung, susah diatur, mau menang sendiri, pemberontak. Pokoknya, pemuda itu aneh-aneh. Pemerintah Desa harus menjadi orang tua yang baik. Mengerti kebutuhan anak-anaknya, memberikan ruang untuk kreatifitasnya, tidak mengekang, tegas dan bijaksana. Tidak ringan tangan, tidak asal pukul kalau anaknya keliru, demokratis dan mengedepankan diskusi untuk menyelesaikan persoalan. Komunikasi yang baik harus dijalin antara orang tua dan anak-anaknya. Antara Pemerintah Desa Seda dengan HIPAKAS. Dengan pemuda secara umum. Demikian. Semoga bermanfaat.

Pesona Banyu Panas Palimanan, Pelesir sambil Terapi

Kabupaten Cirebon, Jawa Barat memiliki objek wisata Banyu Panas. Nama Banyu Panas diambil dari bahasa Cirebon yang berarti air panas. Banyu Panas bukan saja menjadi tujuan untuk berwisata, tetapi juga mashur sebagai tempat pemandian untuk terapi menyembuhkan berbagai penyakit.  

Objek wisata pemandian Banyu Panas berada di tepian jalan raya Cirebon-Bandung. Tepatnya di Desa Palimanan Barat, Kecamatan Gempol, Kabupaten Cirebon. Tidak sulit mencari lokasi objek wisata ini karena berada di lingkungan PT Indocement Tunggal Prakarsa. Sumber air panas alami ini berjarak sekitar satu kilometer dari pintu masuk lokasi Pabrik Indocement Palimanan, Kabupaten Cirebon.

Begitu memasuki areal ini, mata Anda akan dimanjakan dengan pesona dua warna alam yang dominan. Yakni, warna hijau pepohonan dan abu-abu batuan kapur Gunung Kromong. Sensasi optik pada mata menghasilkan sudut pandang Cirebon yang berbeda.

Masyarakat setempat percaya, mineral yang terkandung dalam air panas alami itu memiliki khasiat yang mampu menyembuhkan berbagai penyakit, terutama masalah kulit. Karena itu, objek wisata Banyu Panas ramai dikunjungi setiap akhir pekan atau liburan sekolah sekadar untuk berwisata memanjakan mata sampai terapi karena cedera.

“Indocement bekerja sama dengan Disbudparpora Kabupaten Cirebon melakukan penataan di aeral seluas empat hektare itu sejak tahun 2008,” ujar Husen salah satu petugas pengelola objek wisata Banyu Panas saat saya berkunjung, Sabtu (31/5/2014).

Menurut Husen, jauh sebelum Indocement berinisiatif mengembangkan Banyu Panas pada 2008, sumber air yang memiliki kandungan belerang cukup tinggi ini sudah dikenal masyarakat Cirebon dan sekitarnya sebagai tempat pelesir. “Saya sudah menjaga sumber air ini sejak tahun 1987,” kata Husen.

Dia juga menjelaskan, bahwa tugas menjaga sumber air panas itu diteruskannya dari ayah mertua yang dulu menjadi juru kunci beberapa situs peniggalan Buyut Palimanan atau Ki Ageng Tepak yang ada di sekitar Banyu Panas. “Sayangnya, sejumlah situs seperti Goa Topong, Gua Lawa dan Gua Gedong sudah tidak ada. Lokasi goa terkena imbas perluasan lokasi tambang Indocement. Jadi, tidak bisa kita saksikan lagi keberadaan situs-situs tersebut,” terangnya.        

Di sisi lain, sejumlah fasilitas dibangun di lokasi objek wisata Banyu Panas. Kini sudah ada kolam berendam berukuran sekitar 10×15 meter lengkap dengan kamar bilas dan ganti serta toilet. Ada juga joging track dan gazebo dengan desain taman sederhana yang menarik. Lingkungannya yang bersih memberi kenyamanan bagi para pengunjung yang akan menikmati kenyamanan berendam air panas atau sekadar menikmati udara sejuk di taman yang indah.

Di atas lokasi titik objek wisata Banyu Panas dibangun pula kolam yang memancarkan air panas dari dalam batuan penutup (cap rock). Air berwarna biru menyembur dari bawah permukaan bumi setelah dilakukan penegeboran oleh Indocement. Kolam yang menampung semburan air panas itu disebut telaga biru, karena airnya yang berwarna biru. Air dari telaga biru mengalir ke sungai Banyu Panas lalu ditampung di sebuah situ (danau) yang berada di sebelah utara lokasi objek wisata tersebut. Itu dilakukan untuk menurunkan suhu air sebelum dimanfaatkan untuk keperluan irigasi pertanian bagi warga Gempol dan sekitarnya.

Eka Saputra, warga Jamblang, Kabupaten Cirebon yang tengah asyik berendam ketika di temui Radar, tengah menjalankan terapi untuk lututnya yang cedera saat berolahraga. Dua minggu sebelumnya, kata Eka, tendon pada lutut kanannya bergeser saat bermain bola voli.

“Saya sudah mengikuti fisioterapi di rumah sakit, namun hasilnya kurang maksimal. Beberapa teman menyarankan saya berendam di sini (Objek Wisata Banyu Panas, red). Sudah tiga kali berendam efeknya cukup bagus. Saya sudah bisa berjalan tanpa rasa sakit,” jelasnya.

Lain lagi dengan Sri Kuryati, warga Jatibarang, Kabupaten Indramayu. Dia mengaku, sudah sejak kecil sering diajak berkunjung ke Objek Wiata Banyu Panas oleh orang tuanya. Kali ini dia berkunjung dengan tiga orang putranya. “Sekarang tempatnya sudah jauh lebih nyaman ketimbang dulu. Jadi kalau ada waktu senggang saya bersama keluarga sering main ke sini (objek wisata Banyu Panas, red),” katanya.

Masuk ke objek wisata Banyu Panas tidaklah menguras kantong. Tiket masuk dibanderol Rp4.500 per orang. Sementara untuk berendam di kolam rendam yang nyaman, pengunjung akan dikenakan biaya tambahan Rp6.000 per orang.Gambar

Keraton Kasepuhan, Fragmen Sejarah Cirebon

BERWISATA ke Kota Cirebon tidak lengkap jika Anda tidak mengunjungi Keraton Kasepuhan. Bangunan Keraton Kasepuhan yang masih berdiri kokoh hingga kini menyimpan banyak fragmen sejarah yang menjadi saksi kebesaran Cirebon masa silam. Karenanya, tidak berlebihan jika kemudian Cirebon kini memiliki slogan, “Cirebon the Gate of Secret.”

Keraton yang menjadi tonggak sejarah perkembangan Islam di Jawa Barat itu berada di Jalan Kasepuhan No 43, Kelurahan Kasepuhan, Kecamatan Lemah Wungkuk, Kota Cirebon. Keraton Kasepuhan dapat ditempuh sekitar 20 menit dari Stasiun Kereta Api Kejaksan dan 15 menit dari Terminal Bus Harjamukti, Kota Cirebon.

Keraton yang dibangun Pangeran Mas Mochammad Arifin II, cicit dari Sunan Gunung Jati, pada tahun 1529 M ini merupakan perluasan dari Keraton Pakungwati. Keraton Pakungwanti dibangun Pangeran Cakrabuana, uwak sekaligus mertua dari Sunan Gung Jati, pada tahun 1452 M. Nama Pakungwati berasal dari nama putri Pangeran Cakrabuana, Dewi Pakungwati yang diperistri Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati.

Pengelola Objek Wisata Keraton Kasepuhan Iman Sugiman (50) menuturkan, sejak 2010, Yayasan Keraton Kasepuhan yang dipimpin langsung Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadiningrat SE, dan Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Disporbudpar) Kota Cirebon berkomitmen untuk mengembangkan potensi wisata di Kota Cirebon, termasuk wisata sejarah Keraton Kasepuhan.

“Kalau Jakarta punya slogan, Enjoy Jakarta, lalu Solo dengan slogan, Spirit Of Java. Maka sejak 2010 Cirebon pun punya slogan, Cirebon the Gate of Secret. Artinya, Cirebon pintu gerbang rahasia,” ujar Iman.

Rentetan kata yang tampak aneh untuk sebuah slogan pariwisata. Namun, menurut Iman, slogan tersebut penuh makna pilosofi dan mengundang teka-teki. Sebagaimana kekayaan seni dan budaya Cirebon yang mengandung banyak makna dan teka-teki yang harus digali. “Dengan slogan itu diharapkan, wisatawan baik domestik maupun asing tertarik menjadikan Cirebon sebagai tujuan wisata,” katanya.

Menurut Iman, seni dan budaya Cirebon lahir dari proses pencarian yang matang. Baik seni musik, tari dan arsitektur bangunan menyiratkan banyak makna kehidupan. Karena itu, teka-teki dan makna yang tersirat dari ornamen-ornamen budaya di Cirebon termasuk Keraton Kasepuhan, kata Iman, diharapkan menjadi daya tarik bagi wisatawan mengunjungi Kota Cirebon.

“Memasuki Kota Cirebon, wisatawan dihadapkan pada fragmen-fragmen sejarah. Dan memasuki Keraton Kasepuhan, wisatawan tidak hanya belajar sejarah tapi makna-makna spiritualitas yang terkandung disetiap sudutnya,” paparnya.

Bagi turis asing yang hendak mengunjungi Keraton Kasepuhan, kata Iman, dikenakan tarif Rp10.000. Sementara untuk turis domestik hanya Rp8.000. Sedangkan untuk pelajar dan mahasiswa dikenakan tarif masuk Rp5.000 saja. Menelusuri Keraton Kasepuhan, pengunjung akan ditemani oleh pemandu yang akan menceritakan sejarah dan makna yang terkandung di dalamnya. “Kita sediakan 15 orang pemandu wisata. Tidak ada tarif khusus. Seikhlasnya pengunjung saja,” terangnya.

FOTO : OKRI RIYANA/RADAR CIREBON.  TAMPAK Depan Keraton Kasepuhan Cirebon

FOTO : OKRI RIYANA/RADAR CIREBON.
TAMPAK Depan Keraton Kasepuhan Cirebon

Wisata Pantai Glayem

**Panorama, Riak Ombak, dan Kuliner Laut

TAK ada pasir putih atau bongkahan karang yang menghiasi bibir pantai Glayem Indramayu. Kendati demikian, panorama khas pantai utara dan keramahan warga sekitar menjadikan pantai sepanjang 2 kilomter itu tetap menarik sebagai tempat alternatif menghabiskan waktu liburan bersama keluarga.

Pantai Glayem berada di Desa/Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Lokasinya sekitar 15 kilometer dari pusat Kota Indramayu atau 35 kilometer dari Kota Cirebon. Tidak sulit menemukan objek wisata yang mulai dibuka pada tahun 2004 silam ini. Lokasinya hanya 500 meter dari jalur utama Cirebon-Indramayu. Jika menggunakan angkutan umum, pengunjung dari Cirebon cukup menumpang angkutan elf jurusan Cirebon-Indramayu dengan tarif Rp7000 dan waktu tempuh sekitar 35-45 menit.

Sejak dibuka 10 tahun lalu, pengunjung Pantai Glayem saat ini meningkat pesat. Jumlah pengunjung per minggunya mencapai 1000-an orang. Jumlah tersebut meningkat pesat saat musim libur sekolah dan hari-hari besar seperti Lebaran dan Tahun Baru. Tiket masuk yang cukup murah, hanya Rp5000/orang, menjadi salah satu daya tarik banyaknya wisatawan berkunjung ke Pantai Glayem.

Menurut Erlangga (42), kepala keamanan setempat, saat ini Pantai Glayem sudah mulai dikenal banyak orang. Wisatawan yang datang berkunjung tidak hanya dari wilayah III Cirebon, tetapi ada juga pengunjung yang datang dari Kota Bandung, bahkan dari Jawa Tengah seperti Berebes, Slawi dan Ajibarang.

“Selain suasana pantainya yang alami dan bebas polusi, pengunjung yang datang ke sini karena tertarik dengan keramahan warga setempat dan tarif masuknya yang murah,” tutur Erlangga.

Selain itu, pengunjung juga bisa berkeliling Pantai Glayem menggunakan perahu bermotor dengan kapasitas 10-15 orang yang disewakan dengan tarif Rp5000/orang. Riak ombaknya yang tidak terlalu besar pun membuat pengunjung nyaman untuk berenang. Bagi pengunjung yang tidak bisa berenang atau anak-anak, disediakan juga penyewaan ban dengan tarif Rp2000-Rp5000/jam.

“Pengunjung bisa berenang dengan bebas. Selain ombaknya kecil, kami pun menempatkan sekitar 20 orang penjaga pantai untuk keamanan,” terang Erlangga.

Di samping itu, yang menjadi daya tari utama Pantai Glayem, menurut Erlangga, keberadaan rumah makan Perdut yang berada di dalam lokasi pantai. Rumah makan Perdut menyajikan kuliner khas Indramayu dengan menu makanan laut segar hasil tangkapan para nelayan Juntinyuat.

Pemiliki rumah makan Perdut, Rasidi, menurut Erlangga adalah orang pertama yang berinisiatif mengelola Pantai Glayem secara serius. Inisiatif Rasidi diikuti wrga Juntinyuat lainnya dengan mendirikan warung-warung persinggahan di sepanjang Pantai Glayem.

“Pengunjung yang semakin banyak meningkatkan pendapatan warga setempat. Jika cuacau buruk dan nelayan libur melaut, kini tidak perlu bingung. Karena mereka sudah mendirikan warung-warung persinggahan di sepanjang pantai,” tuturnya.

Rasidi mengatakan, hampir semua menu masakan yang ditawarkan adalah makanan laut. Menu favoritnya adalah cumi-cumi dan udang bakar. Harga jualnya dihitung per kilogram. Udang dipatok dengan harga Rp70 ribu/kilogram, sedangkan cumi-cumi Rp50 ribu/kilogram. “Untuk porsi paling kecil pengunjung bisa memesan udang bakar ¼ kg dan cumi seberat 3 ons,” jelasnya.

Sementara itu, salah seorang pemiliki warung, Carsam (50), mengaku pendapatannya bertambah sejak mendirikan warung di Pantai Glayem. Warga Juntinyuat yang sempat menjadi tukang becak di Kota Cirebon itu kini telah meninggalkan profesi lamanya dan fokus berjualan di Pantai Glayem. “Penghasilan saya waktu jadi tukang becak sekitar Rp30 ribu per hari. Sekarang setelah berjualan di Pantai Glayem, keuntungan saya mencapai Rp150 ribu/hari. Kalau sedang rame bahkan bisa mencapai Rp300 ribu-Rp400 ribu,” tuturnya.

FOTO - OKRI RIYANA/RADAR CIREBON

FOTO – OKRI RIYANA/RADAR CIREBON

Menengok Kura-kura Belawa

Kusna, salah seorang warga Belawa, Kabupaten Cirebon menangkarkan Kura-kura sebisanya.

Kusna, salah seorang warga Belawa, Kabupaten Cirebon menangkarkan Kura-kura sebisanya.

**Ikon Wisata yang Terlupakan

KOLAM kura-kura Belawa banyak dikenal warga Cirebon, Jawa Barat sebagai objek wisata yang menarik. Suasana teduh dan sejuk menjadi jaminan kenyaman berkunjung ke tempat ini.

Keberadaan Kura-kura Belawa yang konon hanya dapat ditemukan di kawasan tersebut, menjadi daya tarik utama. Sayangnya, objek wisata yang sempat menjadi ikon pariwisata di Wilayah Timur Cirebon (WTC) kondisinya kini tidak terawat dengan baik. Alhasil, Kolam Kura-kura Belawa sepi pengunjung.

Objek wisata ini berada di Desa Belawa, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon. Tidak sulit mencari objek wisata ini. Selain sudah cukup dikenal masyarakat , lokasinya hanya sekitar tiga kilometer dari jalur utama Cipeujeuh-Lemahabang, yakni ke arah barat perempatan Cipeujeuh Wetan, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon.

Saya berkesempatan mengunjungi habitat Kura-kura yang memiliki nama latin Aquatic Tortoise Ortilia Norneensis ini, Sabtu (15/3/2014). Objek wisata seluas sekitar satu hektare ini tampak sepi. Tidak ada penjaga di pintu gerbang. Bahkan, tidak ada penjual tiket layaknya lokasi yang menjadi tujuan wisata.

Di lokasi kolam, saya mendapati dua orang pengunjung. Hadi (32) warga Perumnas Ciremai Giri, Kota Cirebon, dan Isnen (38) warga Desa Gumulung, Kecamatan Greged, Kabupaten Cirebon. Keduanya tengah asyik melihat-lihat ratusan Kura-kura yang berada di dua kolam penampungan. “Kita sih cuma iseng mampir saja. Kebetulan lewat sepulang kerja,” tutur Hadi.

Hadi yang ternyata baru pertama kali mengunjungi objek wisata ini mengaku, cukup nyaman bersantai melepas lelah sambil menyaksikan tingkah Kura-kura di dalam kolam. “Sebetulnya, tempatnya nyaman dan asyik. Cocok untuk melepas lelah sehabis kerja. Kalau saja lebih terawat, pasti lebih betah berlama-lama di sini,” katanya.

Isnen berpendapat lain. Pria yang mengaku sering mengunjungi kolam kura-kura itu semasa kecil merasa ada perubahan yang sangat drastis. Isnen menuturkan, semasa kanak-kanaknya dulu, kolam Kura-kura Belawa terlihat lebih alami. Airnya jernih dan Kura-kuranya lebih banyak. “Dulu, kolamnya cuma pake susunan batu sirap tidak disemen seperti sekarang. Kura-kuranya juga banyak dan besar-besar,” ungkapnya.

Andai saja, pemerintah daerah lebih peduli dan melakukan inovasi untuk pengembangan, kata Isnen, tidak mustahil, Kolam Kura-kura Belawa dapat menjadi tujuan wisata favorit. “Kan sudah banyak media lokal maupun nasional yang meliput ke sini. Otomatis, lebih banyak pula orang yang mengenal tempat ini. Harusnya itu dijadikan kesempatan pemerintah untuk terus melaukan penataan,” katanya.

Sebelum beranjak dari Belawa, saya menemui salah seorang petugas pengelola Kolam Kura-kura Belawa, Kusna (58). Kusna ditemui dirumahnya di Blok D, RT 01 RW 06, Desa Belawa.

Kusna menuturkan, salah satu penyebab menurunnya pengunjung Kolam Kura-kura Belawa karena kematian ratusan Kura-kura pada tahun 2010. Waktu itu, kata Kusna, sekitar 350 Kura-kura mati. Tidak jelas apa penyebabnya. Kura-kura yang mati rata-rata berumur puluhan tahun. “Kata dokter hewan yang dikirim pemerintah sih keracunan. Beberapa ekor Kura-kura yang mati kita awetkan dengan air keras,” jelasnya.

Menurut Kusna, yang membedakan Kura-kura Belawa dengan yang lainnya, memiliki ciri khas tempurung cekung dan berwarna hitam polos. Konon, Kura-kura itu hanya bisa ditemui di Belawa. Karena itu, Kusna membela benar kelestarian Kura-kura Belawa.

Untuk menjaga kelestarian Kura-kura khas Belawa itu, Kusna berusaha menangkarkan reptilia bertempurung itu di rumahnya. Sekitar 250 ekor kura-kura berusia satu sampai tiga bulan kini berada di penangkaran sederhana di samping rumahnya. Setelah berusia enam bulan, kata Kusna, anakan kura-kuara itu baru dapat ditempatkan di kolam penampungan. “Saya tidak mau Kura-kura ini sampai punah. Kalau punah, anak cucu kami tidak bisa lagi melihat kura-kura yang menjadi ikon daerahnya. Karena itu saya menangkarkannya,” tuturnya.

Ekspedisi Curug Ciranca

Luput dari Perhatian, Menanti Sentuhan
CURUG Ciranca terletak di Desa Kedondong Kidul, Kecamatan Dukupuntang, Kabupaten Cirebon. Air terjun dengan tinggi sekitar 25 meter ini mengalir dari celah punggung Gunung Petot. Curug Ciranca berpotensi menjadi objek wisata alam yang mampu menarik banyak pengunjung. Sayangnya, potensi alam yang besar di Desa Kedondong Kidul itu luput dari perhatian pemerintah dan warganya.

Letaknya yang jauh dari pemukiman warga membuat perjalanan saya dan salah seorang teman menuju Curug Ciranca pada hari Sabtu (10/5) tidak mudah. Perjalanan ditempuh melalui Kecamatan Sumber menuju Dukupuntang. Dari perempatan Kramat mengambil arah kanan menuju Desa Girinata.

Sepanjang jalur Kramat-Girinata, jalanan berlubang dan berdebu. Kawasan ini memang menjadi pusat penambangan dan perajin batu alam. Truk-truk bermuatan batu alam ramai melintasi jalur ini. Sehingga kekuatan konstruksi jalan tak mampu bertahan lama.
Dari Girinata, perjalanan dilanjutkan melalui Desa Cipanas. Kondisi jalan lebih baik dari Desa Cipanas hingga Kedondong Kidul. Namun, itu bukanlah akhir perjalanan. Medan yang lebih berat masih harus ditempuh untuk mencapai lokasi air terjun yang berada di batas wilayah Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Majalengka ini.

Potensi wisata Curug Ciranca benar-benar tanpa pengelolaan. Tak ada tempat parkir, pintu gerbang, bahkan tak ada sedikitpun penanda. Karena itu, rajin bertanya menjadi pekerjaan yang wajib dilakukan bagi pengunjung Curug Ciranca.

Kami tiba di Kendodong Kidul sekitar pukul 15.30 WIB. Tepat di depan Balai Desa Kedondong Kidul, di Jl Nyi Mas Tepasari, kendaraan langsung diparkir di halaman rumah salah seorang warga. Suhardi (45) sang pemilik rumah mempersilakan dengan ramah. Dari Suhardi saya memperoleh informasi. Untuk sampai di Curug Ciranca hanya ada satu akses jalan di selatan balai desa. Yakni, melalui jalan setapak yang membelah perbukitan Gunung Petot, dengan waktu tempuh sekitar satu jam.
“Biasanya, kalau akhir pekan begini ada saja yang berkunjung ke curug (Curug Ciranca, red). Tadi juga ada beberapa pemuda baru turun. Kalau mau ke sana, lebih baik berangkat sekarang juga. Nanti keburu gelap,” terang Suhardi.

Saya bertaman teman bergegas mengikuti saran Suhardi. Medan yang ditempuh sungguh tidak mudah. Mulai dari melintasi areal persawahan dan ladang milik warga hingga melintasi sungai kecil yang diapit tebing bebatuan dengan akar pepohonan yang menjulur lebat. Bagi para pencinta jelajah alam, perjalan ini dijamin mengasyikan dan cukup memberi tantangan.

Perjalanan panjang melelahkan terbayar setibanya di lokasi Curug Ciranca. Air yang jernih jatuh dari ketinggian menjalari dinding tebing dengan tekstur batuan yang kokoh. Sayang hari hampir gelap. Sehingga, tak menunggu lebih lama lagi. Saya kembali menuruni bukit.
“Butuh modal besar untuk membuka akses masuk ke Curug Ciracas, sebab medan yang ditempuh cukup berat. Memang potensi wisatanya cukup besar. Sayangnya belum ada investor yang tertarik dan Pemkab Cirebon belum serius mengelola,” tutur Kuwu Kedondong Kidul, Jaenudin di rumahnya.

Jaenudin mengatakan, Curug Ciranca akan lebih menarik jika dipadukan dengan kegiatan outbond. Rute yang menantang menuju curug diyakini Jaenudin bisa menjadi daya tarik. Menurut Jaenudin, upaya membuka jalur menuju curug sudah dilakukan melalui swadaya masyarakat dibantu petugas dari kecamatan dan anggota Koramil Dukupuntang. “Perjalanan menuju curug sangat menantang. Sangat menarik jika ada outbond. Sayangnya, pengembangan yang coba kami lakukan terbentur besarnya modal,” ujarnya.

Potensi alam masih perawan. Belum tersentuh pembangunan untuk objek wisata

Potensi alam masih perawan. Belum tersentuh pembangunan untuk objek wisata