Menengok Kura-kura Belawa

Kusna, salah seorang warga Belawa, Kabupaten Cirebon menangkarkan Kura-kura sebisanya.

Kusna, salah seorang warga Belawa, Kabupaten Cirebon menangkarkan Kura-kura sebisanya.

**Ikon Wisata yang Terlupakan

KOLAM kura-kura Belawa banyak dikenal warga Cirebon, Jawa Barat sebagai objek wisata yang menarik. Suasana teduh dan sejuk menjadi jaminan kenyaman berkunjung ke tempat ini.

Keberadaan Kura-kura Belawa yang konon hanya dapat ditemukan di kawasan tersebut, menjadi daya tarik utama. Sayangnya, objek wisata yang sempat menjadi ikon pariwisata di Wilayah Timur Cirebon (WTC) kondisinya kini tidak terawat dengan baik. Alhasil, Kolam Kura-kura Belawa sepi pengunjung.

Objek wisata ini berada di Desa Belawa, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon. Tidak sulit mencari objek wisata ini. Selain sudah cukup dikenal masyarakat , lokasinya hanya sekitar tiga kilometer dari jalur utama Cipeujeuh-Lemahabang, yakni ke arah barat perempatan Cipeujeuh Wetan, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon.

Saya berkesempatan mengunjungi habitat Kura-kura yang memiliki nama latin Aquatic Tortoise Ortilia Norneensis ini, Sabtu (15/3/2014). Objek wisata seluas sekitar satu hektare ini tampak sepi. Tidak ada penjaga di pintu gerbang. Bahkan, tidak ada penjual tiket layaknya lokasi yang menjadi tujuan wisata.

Di lokasi kolam, saya mendapati dua orang pengunjung. Hadi (32) warga Perumnas Ciremai Giri, Kota Cirebon, dan Isnen (38) warga Desa Gumulung, Kecamatan Greged, Kabupaten Cirebon. Keduanya tengah asyik melihat-lihat ratusan Kura-kura yang berada di dua kolam penampungan. “Kita sih cuma iseng mampir saja. Kebetulan lewat sepulang kerja,” tutur Hadi.

Hadi yang ternyata baru pertama kali mengunjungi objek wisata ini mengaku, cukup nyaman bersantai melepas lelah sambil menyaksikan tingkah Kura-kura di dalam kolam. “Sebetulnya, tempatnya nyaman dan asyik. Cocok untuk melepas lelah sehabis kerja. Kalau saja lebih terawat, pasti lebih betah berlama-lama di sini,” katanya.

Isnen berpendapat lain. Pria yang mengaku sering mengunjungi kolam kura-kura itu semasa kecil merasa ada perubahan yang sangat drastis. Isnen menuturkan, semasa kanak-kanaknya dulu, kolam Kura-kura Belawa terlihat lebih alami. Airnya jernih dan Kura-kuranya lebih banyak. “Dulu, kolamnya cuma pake susunan batu sirap tidak disemen seperti sekarang. Kura-kuranya juga banyak dan besar-besar,” ungkapnya.

Andai saja, pemerintah daerah lebih peduli dan melakukan inovasi untuk pengembangan, kata Isnen, tidak mustahil, Kolam Kura-kura Belawa dapat menjadi tujuan wisata favorit. “Kan sudah banyak media lokal maupun nasional yang meliput ke sini. Otomatis, lebih banyak pula orang yang mengenal tempat ini. Harusnya itu dijadikan kesempatan pemerintah untuk terus melaukan penataan,” katanya.

Sebelum beranjak dari Belawa, saya menemui salah seorang petugas pengelola Kolam Kura-kura Belawa, Kusna (58). Kusna ditemui dirumahnya di Blok D, RT 01 RW 06, Desa Belawa.

Kusna menuturkan, salah satu penyebab menurunnya pengunjung Kolam Kura-kura Belawa karena kematian ratusan Kura-kura pada tahun 2010. Waktu itu, kata Kusna, sekitar 350 Kura-kura mati. Tidak jelas apa penyebabnya. Kura-kura yang mati rata-rata berumur puluhan tahun. “Kata dokter hewan yang dikirim pemerintah sih keracunan. Beberapa ekor Kura-kura yang mati kita awetkan dengan air keras,” jelasnya.

Menurut Kusna, yang membedakan Kura-kura Belawa dengan yang lainnya, memiliki ciri khas tempurung cekung dan berwarna hitam polos. Konon, Kura-kura itu hanya bisa ditemui di Belawa. Karena itu, Kusna membela benar kelestarian Kura-kura Belawa.

Untuk menjaga kelestarian Kura-kura khas Belawa itu, Kusna berusaha menangkarkan reptilia bertempurung itu di rumahnya. Sekitar 250 ekor kura-kura berusia satu sampai tiga bulan kini berada di penangkaran sederhana di samping rumahnya. Setelah berusia enam bulan, kata Kusna, anakan kura-kuara itu baru dapat ditempatkan di kolam penampungan. “Saya tidak mau Kura-kura ini sampai punah. Kalau punah, anak cucu kami tidak bisa lagi melihat kura-kura yang menjadi ikon daerahnya. Karena itu saya menangkarkannya,” tuturnya.