Keraton Kasepuhan, Fragmen Sejarah Cirebon

BERWISATA ke Kota Cirebon tidak lengkap jika Anda tidak mengunjungi Keraton Kasepuhan. Bangunan Keraton Kasepuhan yang masih berdiri kokoh hingga kini menyimpan banyak fragmen sejarah yang menjadi saksi kebesaran Cirebon masa silam. Karenanya, tidak berlebihan jika kemudian Cirebon kini memiliki slogan, “Cirebon the Gate of Secret.”

Keraton yang menjadi tonggak sejarah perkembangan Islam di Jawa Barat itu berada di Jalan Kasepuhan No 43, Kelurahan Kasepuhan, Kecamatan Lemah Wungkuk, Kota Cirebon. Keraton Kasepuhan dapat ditempuh sekitar 20 menit dari Stasiun Kereta Api Kejaksan dan 15 menit dari Terminal Bus Harjamukti, Kota Cirebon.

Keraton yang dibangun Pangeran Mas Mochammad Arifin II, cicit dari Sunan Gunung Jati, pada tahun 1529 M ini merupakan perluasan dari Keraton Pakungwati. Keraton Pakungwanti dibangun Pangeran Cakrabuana, uwak sekaligus mertua dari Sunan Gung Jati, pada tahun 1452 M. Nama Pakungwati berasal dari nama putri Pangeran Cakrabuana, Dewi Pakungwati yang diperistri Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati.

Pengelola Objek Wisata Keraton Kasepuhan Iman Sugiman (50) menuturkan, sejak 2010, Yayasan Keraton Kasepuhan yang dipimpin langsung Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadiningrat SE, dan Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (Disporbudpar) Kota Cirebon berkomitmen untuk mengembangkan potensi wisata di Kota Cirebon, termasuk wisata sejarah Keraton Kasepuhan.

“Kalau Jakarta punya slogan, Enjoy Jakarta, lalu Solo dengan slogan, Spirit Of Java. Maka sejak 2010 Cirebon pun punya slogan, Cirebon the Gate of Secret. Artinya, Cirebon pintu gerbang rahasia,” ujar Iman.

Rentetan kata yang tampak aneh untuk sebuah slogan pariwisata. Namun, menurut Iman, slogan tersebut penuh makna pilosofi dan mengundang teka-teki. Sebagaimana kekayaan seni dan budaya Cirebon yang mengandung banyak makna dan teka-teki yang harus digali. “Dengan slogan itu diharapkan, wisatawan baik domestik maupun asing tertarik menjadikan Cirebon sebagai tujuan wisata,” katanya.

Menurut Iman, seni dan budaya Cirebon lahir dari proses pencarian yang matang. Baik seni musik, tari dan arsitektur bangunan menyiratkan banyak makna kehidupan. Karena itu, teka-teki dan makna yang tersirat dari ornamen-ornamen budaya di Cirebon termasuk Keraton Kasepuhan, kata Iman, diharapkan menjadi daya tarik bagi wisatawan mengunjungi Kota Cirebon.

“Memasuki Kota Cirebon, wisatawan dihadapkan pada fragmen-fragmen sejarah. Dan memasuki Keraton Kasepuhan, wisatawan tidak hanya belajar sejarah tapi makna-makna spiritualitas yang terkandung disetiap sudutnya,” paparnya.

Bagi turis asing yang hendak mengunjungi Keraton Kasepuhan, kata Iman, dikenakan tarif Rp10.000. Sementara untuk turis domestik hanya Rp8.000. Sedangkan untuk pelajar dan mahasiswa dikenakan tarif masuk Rp5.000 saja. Menelusuri Keraton Kasepuhan, pengunjung akan ditemani oleh pemandu yang akan menceritakan sejarah dan makna yang terkandung di dalamnya. “Kita sediakan 15 orang pemandu wisata. Tidak ada tarif khusus. Seikhlasnya pengunjung saja,” terangnya.

FOTO : OKRI RIYANA/RADAR CIREBON.  TAMPAK Depan Keraton Kasepuhan Cirebon

FOTO : OKRI RIYANA/RADAR CIREBON.
TAMPAK Depan Keraton Kasepuhan Cirebon

Iklan

Wisata Pantai Glayem

**Panorama, Riak Ombak, dan Kuliner Laut

TAK ada pasir putih atau bongkahan karang yang menghiasi bibir pantai Glayem Indramayu. Kendati demikian, panorama khas pantai utara dan keramahan warga sekitar menjadikan pantai sepanjang 2 kilomter itu tetap menarik sebagai tempat alternatif menghabiskan waktu liburan bersama keluarga.

Pantai Glayem berada di Desa/Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Lokasinya sekitar 15 kilometer dari pusat Kota Indramayu atau 35 kilometer dari Kota Cirebon. Tidak sulit menemukan objek wisata yang mulai dibuka pada tahun 2004 silam ini. Lokasinya hanya 500 meter dari jalur utama Cirebon-Indramayu. Jika menggunakan angkutan umum, pengunjung dari Cirebon cukup menumpang angkutan elf jurusan Cirebon-Indramayu dengan tarif Rp7000 dan waktu tempuh sekitar 35-45 menit.

Sejak dibuka 10 tahun lalu, pengunjung Pantai Glayem saat ini meningkat pesat. Jumlah pengunjung per minggunya mencapai 1000-an orang. Jumlah tersebut meningkat pesat saat musim libur sekolah dan hari-hari besar seperti Lebaran dan Tahun Baru. Tiket masuk yang cukup murah, hanya Rp5000/orang, menjadi salah satu daya tarik banyaknya wisatawan berkunjung ke Pantai Glayem.

Menurut Erlangga (42), kepala keamanan setempat, saat ini Pantai Glayem sudah mulai dikenal banyak orang. Wisatawan yang datang berkunjung tidak hanya dari wilayah III Cirebon, tetapi ada juga pengunjung yang datang dari Kota Bandung, bahkan dari Jawa Tengah seperti Berebes, Slawi dan Ajibarang.

“Selain suasana pantainya yang alami dan bebas polusi, pengunjung yang datang ke sini karena tertarik dengan keramahan warga setempat dan tarif masuknya yang murah,” tutur Erlangga.

Selain itu, pengunjung juga bisa berkeliling Pantai Glayem menggunakan perahu bermotor dengan kapasitas 10-15 orang yang disewakan dengan tarif Rp5000/orang. Riak ombaknya yang tidak terlalu besar pun membuat pengunjung nyaman untuk berenang. Bagi pengunjung yang tidak bisa berenang atau anak-anak, disediakan juga penyewaan ban dengan tarif Rp2000-Rp5000/jam.

“Pengunjung bisa berenang dengan bebas. Selain ombaknya kecil, kami pun menempatkan sekitar 20 orang penjaga pantai untuk keamanan,” terang Erlangga.

Di samping itu, yang menjadi daya tari utama Pantai Glayem, menurut Erlangga, keberadaan rumah makan Perdut yang berada di dalam lokasi pantai. Rumah makan Perdut menyajikan kuliner khas Indramayu dengan menu makanan laut segar hasil tangkapan para nelayan Juntinyuat.

Pemiliki rumah makan Perdut, Rasidi, menurut Erlangga adalah orang pertama yang berinisiatif mengelola Pantai Glayem secara serius. Inisiatif Rasidi diikuti wrga Juntinyuat lainnya dengan mendirikan warung-warung persinggahan di sepanjang Pantai Glayem.

“Pengunjung yang semakin banyak meningkatkan pendapatan warga setempat. Jika cuacau buruk dan nelayan libur melaut, kini tidak perlu bingung. Karena mereka sudah mendirikan warung-warung persinggahan di sepanjang pantai,” tuturnya.

Rasidi mengatakan, hampir semua menu masakan yang ditawarkan adalah makanan laut. Menu favoritnya adalah cumi-cumi dan udang bakar. Harga jualnya dihitung per kilogram. Udang dipatok dengan harga Rp70 ribu/kilogram, sedangkan cumi-cumi Rp50 ribu/kilogram. “Untuk porsi paling kecil pengunjung bisa memesan udang bakar ¼ kg dan cumi seberat 3 ons,” jelasnya.

Sementara itu, salah seorang pemiliki warung, Carsam (50), mengaku pendapatannya bertambah sejak mendirikan warung di Pantai Glayem. Warga Juntinyuat yang sempat menjadi tukang becak di Kota Cirebon itu kini telah meninggalkan profesi lamanya dan fokus berjualan di Pantai Glayem. “Penghasilan saya waktu jadi tukang becak sekitar Rp30 ribu per hari. Sekarang setelah berjualan di Pantai Glayem, keuntungan saya mencapai Rp150 ribu/hari. Kalau sedang rame bahkan bisa mencapai Rp300 ribu-Rp400 ribu,” tuturnya.

FOTO - OKRI RIYANA/RADAR CIREBON

FOTO – OKRI RIYANA/RADAR CIREBON